Sunday, June 24, 2012

Waris Anak Luar Kawin BW


Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) kita yang masih berlaku hingga sekarang, menentukan bahwa anak yang dilahirkan dari seorang wanita tanpa adanya perkawinan ibunya dianggap tidak mempunyai ayah maupun ibu. Berdasarkan pasal 221 ayat (1) KUHPerdata, berbunyi sebagai berikut: “Een onwettig kind heft de staat van natuurlijk kind van de moeder. Het verkrijgt door de erkenning de staat van natuurlijk kind van de vader” (Seorang anak tidak sah mempunyai status sebagai anak wajar daripada ibunya). Ia memperoleh status sebagai anak wajar dengan adanya pengakuan oleh ayahnya. Pasal 221 ayat (2) KUHPerdata, yang berbunyi :  “Onder de vader van een natuurlijk kind wordt verstaan, hijdie het kind heeft erkend” (Yang dimaksud dengan ayah seorang anak wajar, ialah ia yang mengakui anak tersebut). Dan pasal 222 KUHPerdata, yang berbunyi : “Een onwettig kind komt met zijn geboorte en met zijn vader op het tijdstip van erkenning.” (Seorang anak tidak sah, mempunyai hubungan hukum kekeluargaan dengan ibunya sejak saat kelahirannya, dan dengan ayahnya pada saat dilakukannya pengakuan).
                                      
Oleh karena undang-undang tidak mengadakan ketentuan, kapan seorang anak luar kawin boleh diakui, maka boleh dianggap bahwa anak itu dapat diakui sebagai anaknya dalam usia berapapun, tanpa ada batasan. Berdasarkan ketentuan pasal 2 Kitab Undang-undang Hukum Perdata bahwa anak yang masih dalam kandungan seorang wanita dianggap sebagai telah dilahirkan, bilamana kepentingan anaknya menuntutnya, dapat disimpulkan, bahwa anak yang masih dalam kandunganpun dapat diakui pula.

Begitu juga pengakuan terhadap seorang anak yang telah meninggal duniapun tidak dilarang oleh undang-undang, maka dengan demikian harus dianggap dibolehkan. Pengakuan yang demikian tiada tanpa kepentingan, bilamana anak yang telah meninggal dunia itu meninggalkan keturunan. Akibat-akibat dari pada pengakuan anak:

1.      Terhadap ayah yang mengakui.
Dengan pengakuan ayah terhadap anak, terciptalah hubungan-hubungan perdata antara anak dan ayah yang mengakui itu (pasal 280 KUHPerdata). Akibat lebih lanjut dari pengakuan sang ayah ialah bahwa anak luar kawin tersebut berhak menggunakan nama keluarga sang ayah, yang sebelumnya menggunakan nama keluarga sang ibu. Dengan demikian anak tersebut berhak atas  alimentasi  dari ayahnya.
2.      Terhadap sanak keluarga sang ayah.
Pada umumnya dapatlah dianggap bahwa pengakuan itu hanya menciptakan hubungan antara ayah dan anak, sedangkan hubungan anak tersebut dengan neneknya atau garis ke samping hampir tidak ada. Maka anak tersebut pun tidak berhak memperoleh  alimentasi  dari neneknya, begitu juga sebaliknya. Sebagai halangan perkawinan karena derajat kekeluargaan yang terlalu dekat, maka dalam hal ini anak luar kawin disamakan dengan anak sah.

Anak luar kawin (ALK) hanya mempunyai hak waris terhadap warisan ayah/ibunya sepanjang  ayah/ibunya sepanjang ayah ibunya telah mengakuinya dengan sah.Jika ALK belum diakui tidak ada hubungan perdata antara anak tersebut dengan orang tuanya itu dan tanpa hubungan perdata (tidak ada  hubungan perdata (tidak ada pertalian keluarga) maka tidak ada pula hubungan pewarisan antara mereka.

Meskipun ALK mempunyai hak waris terhadap orang tuanya hak warisannya itu sangat “inferior sifatnya jika dibandingkan dengan hak
waris anak-anak sah karena :
  1. Ia tidak mempunyai hak waris tersendiri, dalam arti kata terhadap warisan orang tuanya itu ia tidak mungkin mewaris sendirian  sepanjang orang tuanya masih mempunyai keluarga sedarah dalam batas derajat yang boleh mewaris yaitu enam derajat.  yaitu enam derajat.
  2. Ia selalu “membonceng” pada salah satu kelas ahli waris sah yang empat. ALK itu hanya mempunyai hak waris tersendiri jika orang tuanya tidak meninggalkan keluarga yang termasuk dalam keempat-empat kelas ahli waris sah
  3. Porsi atau bahagian yang diterimanya adalah lebih kecil  dari porsi yang akan diterimanya sekiranya ia adalah anak sah.Besar kecilnya porsi itu bukan saja ditentukan oleh berapa  saja ditentukan oleh berapa orang temannya yang mewaris, akan tetapi juga dan terutama sekali oleh kenyataan ahliwaris kelas berapa temannya mewaris itu.

Hak waris ALK yang diakui sah diatur dalam pasal 862 sampai  diatur dalam pasal 862 sampai dengan pasal 873.  Besarnya porsi ALK itu diatur dalam Pasal 863. Isi pasal itu dapat disimpulkan sebagai
diuraikan dibawah ini :
Besarnya porsi yang diwaris oleh ALK yang diakui sah dari harta peninggalan
ayah atau ibu yang mengakuinya ialah :
1.      Jika ayah atau ibunya itu meninggalkan   janda/duda dan/atau anak keturunan janda/duda dan/atau anak keturunan (ahliwaris kelas pertama) maka anak luar kawin itu mendapat bahagian sebesar 1/3 dari bahagian yang akan diterimanya sekiranya ia adalah anak sah.
2.      Jika ayah atau ibunya itu tidak meninggalkan ahliwaris kelas pertama tapi ada meninggalkan sdr/sdri atau keturunannya dan/atau ayah/ibu (ahliwaris kelas
kedua) atau yang ada hanya  kedua) atau yang ada hanya kakek/nenek dan seterusnya dalam garis lurus keatas (ahliwaris kelas ketiga) maka anak luar kawin memperoleh ½ dari warisan.III. Jika ayah/ibunya itu hanya meninggalkan ahliwaris sah kelas keempat atau keluarga sedarah garis kesamping  yang lebih jauh  garis kesamping  yang lebih jauh pertalian darahnya dari sdr/sdri maka anak luar kawin mendapat bahagian sebesar ¾ dari warisan.

Tentang bagaimana cara membagi sisa harta peninggalan setelah bahagian alk diketahui, jawaban untuk itu diberikan oleh Pasal 864 yang prinsipnya menetapkan bahwa setelah dikeluarkan  bahwa setelah dikeluarkan bahagian yang menjadi hak alk maka sisa harta penggalan dibagi oleh dan diantara ahliwaris sah menurut cara yang ditentukan dalam Pasal 852 –861.
Title: Waris Anak Luar Kawin BW; Written by M.ZAMUJI; Rating: 5 dari 5

No comments:

Post a Comment